Berguru Kepada MURSYID

Sufi Muda

1.       Dasar-Dasar Al Qur’an Dan Al Hadits

Sebagai manusia yang mendapat tugas mengabdi kepada Allah Swt harus melalui atau menapak jalan untuk mencapai suatu tujuan yaitu berjumpa dengan Allah dan mendapatkan ridla-Nya. Untuk mencapai Allah, hamba tidak berkemampuan, karena dimensi manusia sebagai hamba sangat terbatas. Karena itu, sesuai dengan keinginan Allah Swt, ia menciptakan makhluk perantara sekaligus pengantar manusia untuk mempermudah berhubungan dengan Allah Swt dan mengenalnya dengan baik. Firman Allah dalam hadits Qudsi menceritakan pesisa-Nya di kalangan hambanya sebagai berikut :

كُنْتُ خَزِيْنَةً خَافِيَةً فَاَرَدْتُ اَنْ اُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَتَعَرَّفْتُ اِلَيْهِمْ فَعَرَّفُوْنِ

Adalah Aku satu perbendaharaan yang tersembunyi, maka inginlah Aku supaya diketahui siapa Aku, maka Aku jadikanlah makhluk-Ku. Maka Aku memperkenalkan diri-Ku kepada mereka (para petugas Allah).

 

Dalam al Qur’an terdapat banyak keterangan mengenai orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah, yaitu diberi rahmat dari Allah dan dikaruniai ilmu ladunni, seperti : nabi Hidir guru ruhani Nabi…

Lihat pos aslinya 6.399 kata lagi

Iklan

Sudahkah Saya ber “ISLAM KAFFAH”? (bag 2)

Sufi Muda

SYARIAT

Syariat bisa disebut syir’ah. Artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan “syara’a fiil maa’i” artinya datang ke sumber air mengalir atau datang pada syari’ah.

Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.

Kata “syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman, “Untuk setiap umat di antara kamu (umat Nabi Muhammad dan umat-umat sebelumnya) Kami jadikan peraturan (syari’at) dan jalan yang terang.” [QS. Al-Maidah (5): 48]

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Maidah (5): 18].

Allah telah mensyari’atkan (mengatur) bagi kamu tentang agama sebagaimana apa yang telah diwariskan kepada Nuh.” [QS. Asy-Syuuraa (42): 13].

Sedangkan…

Lihat pos aslinya 1.617 kata lagi

Sudahkah Saya Ber “ISLAM KAFFAH”? (bag 1)

Sufi Muda

Beberapa bulan yang lalu di depan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh terdapat sebuah spanduk berukuran besar, bertuliskan kata  “SYARIAT ISLAM KUNCI SELAMAT DUNIA AKHIRAT”, setiap lewat depan mesjid kebanggaan masyarakat Aceh itu saya merasa terganggu dengan spanduk tersebut, bukan karena ukuran spanduknya  tapi isi sepanduk tersebut menjadi bahan renungan saya.

Benarkah dengan “Syariat Islam” bisa selamat dunia akhirat? Bukankah “Syariat” itu hanyalah makna lain dari peraturan atau Hukum, apa mungkin orang-orang kelak di akhirat bisa selamat hanya dengan melaksanakan Syariat nya saja.

Kepada seorang teman saya mengatakan, “andai spanduk itu isinya ISLAM KUNCI SELAMAT DUNIA AKHIRAT, itu lebih tepat”.

Kenapa? Karena Islam itu bukan hanya syariatnya saja, tapi ada Tharerat, Hakikat dan Makrifat.

 

Rasulullah bersabda :

Assyariati ‘ahwali,

Attariqati ‘Af’ali

Alhaqiqati ‘Awwali

Almarifati assirri

Artinya:

Syariat itu adalah perkataanku

Tahrikat itu adalah perbuatanku

Hakikat itu adalah kediamanku

Makriat itu adalah rahasiaku.

 

Saidi Syekh Dermoga Barita Raja…

Lihat pos aslinya 382 kata lagi

Akibat Tamak

Sufi Muda

Jika seseorang mendambakan yang serba banyak atau terlalu panjang angan-angannya atas sesuatu yang lebih, niscaya hilanglah sifat qana’ah (merasa cukup dengan yang ada). Dan tidak mustahil ia menjadi kotor akibat loba dan hina akibat rakus sebab kedua sifat itu akan menyeret kepada pekerti yang jahat untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan munkar, yang merusakkan muru’ah (harga diri).

Untuk itu, rasanya tidak keliru kalau kita perhatikan sebuah hadis Nabi saw. yang dijadikan sandaran oleh rekan saya dari Jalan Kertosentono, Malang, bemama Santoso H. ketika mengirimkan naskah ini. ” Apabila anak adam (manusia) itu mempunyai dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga untuk tambahan dua lembah tadi. Dan rongga anak Adam itu tidak akan penuh selain oleh tanah. Tetapi, Allah menerima tobat terhadap siapa yang bertobat,” demikian sabda Nabi. Kemudian Santoso H. berkata, “Ada sebuah cerita menarik dari Asy-Sya’bi yang layak kita simak dengan cermat. Telah kudengar cerita bahwa terdapat seorang laki-laki menangkap…

Lihat pos aslinya 704 kata lagi

PIDATO PROF. DR. H SAIDI SYEKH KHADIRUN YAHYA MA, M.Sc

Sufi Muda

Menganalisa sebab-sebab kekalahan – kekalahan hebat yang dialami Ummat Islam dewasa ini di Timur Tengah serta mengupayakan secara ilmiah – Agamis (METAFISIKA TASAUF ISLAM) mencari Penangkalnya agar tidak terulang kembali kekalahan serupa atas diri kaum muslimin di dunia, khususnya di Indonesia

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang kami muliakan, seluruh hadirin dan hadirat yang kami hormati sekalian.

Assalamu ‘alaikum WR.WB.

Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, kita mengadakan disini sebuah sarasehan mengenai, sebuah judul yang maha penting dewasa ini, yaitu : menyelidiki, menganalisa dan menguraikan akan kesalahan-kesalahan pokok dan fundamentil, apa sebabnya Kaum Muslimin di Timur Tengah, khususnya di Teluk Parsi, begitu hebat mengalami penderitaan, penyiksaan, kehinaan-kehinaan dan kelaparan yang sangat berat, sedangkan mereka adalah orang-orang yang beragama Islam, agan yang di akui Allah, satu-satunya agama yang sangat ilmiah dan amaliah, sangat tinggi, agung dan mulia.!

Kita melihat bahwa dalam kejadian – kejadian dahsyat itu, seolah – olah tidak berlaku lagi ayat-ayat Tuhan atau…

Lihat pos aslinya 2.435 kata lagi

ZIKIR DALAM THAREQAT (Bag 2)

Sufi Muda

Macam-Macam Dzikir

Dari segi materi lafalnya, dzikir ada 3 macam

1)       Seseorang melafalkan ismu dzat Allah Allah sebanyak-banyaknya

sebagaimana firman Allah dalam surat Hamim Sajadah ayat 30, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata : Tuhan kita adalah Allah, kemudian mereka tekun maka turunlah malaikat pada mereka, dan malaikat itu memberi kabar : gembiralah kalian dengan apa yang telah dijanjikan pada kalian.” Dan hadits Nabi diriwayatkan Thabrani dan Baihaqi. Rasulullah bersabda kepada sayyidina Ali : “Ya Ali, pejamkan kedua matamu, lekatkan (rapatkan) kedua bibirmu, naikkan lidahmu dan berkatalah (berzikirlah) Allah Allah.”

                Allah berfirman :

 

Katakanlah, Allah-lah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan al Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. al An’am : 91)

 

                Rasulullah bersabda :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لاَ يُقَالَ فِى اْلاَرْضِ : اَلله ….اَلله

 

Hari kiamat tidak akan terjadi sampai di atas bumi ini tidak ada lagi…

Lihat pos aslinya 2.153 kata lagi

ZIKIR DALAM THAREQAT (Bag I)

Sufi Muda

Pengertian Dzikir

Ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits Nabi menyebut kata dzikir dalam beragam makna.

a.       Dzikir (dzikir) adalah al Qur’an, sebagaimana terekam dalam surat al Hijr ayat9

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.

 

b.       Dzikir adalah shalat jum’at, sebagaimana tertera dalam al Qur’an dalam surat al Jumu’ah ayat 9.

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kalian menuju dzkir kepada Allah.

 

c.        Dzikir diartikan sebagai ilmu, sebagaimana terekam dalam al Qur’an surat al Anbiya’ ayat 7.

Kami tiada mengutus Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

 

Sebagian ahli tafsir berkata, “Yang dimaksud dzikir adalah ilmu tentang yang halal dan yang haram.”

Dzikir adalah lafal musytarak (memiliki lebih dari satu makna), mencakup ilmu, shalat, al Qur’an…

Lihat pos aslinya 1.155 kata lagi

Bisikan Allah, Bisikan Malaikat, Bisikan Nafsu, Bisikan Syetan

Sufi Muda

Imam Al-Ghazali
Tulisan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazaly dari kitab Roudlotut Tholibin wa-‘Umdatus Salikin, ini kami turunkan karena banyaknya pertanyaan dari pembaca soal cara membedakan bisikan-bisikan dari dalam hati, apakah dari Allah, nafsu atau syetan. Red.)

Kajian ini seputar bisikan-bisikan hati (khawathir) dengan segala bentuknya, upaya memerangi, mengalahkan dan unggul dalam menghalau perbuatan syetan yang jahat.
Juga bab ini tentang berlindung kepada Allah dari syetan dengan tiga cara:
Pertama, anda harus mengetahui godaan, rekayasa dan tipuan syetan.
Kedua, hendaknya anda tidak menanggapi ajakannya, sehingga qalbu anda tidak bergantung dengan ajakan itu.

Ketiga, langgengkan dzikrullah dalam qalbu dan lisan anda.
Sebab dzikrullah bagi syetan seperti penyakit yang menyerang manusia.
Untuk mengetahui rekayasa godaan syetan, akan tampak pada bisikan-bisikan (khawathir) dan berbagai macam caranya. Mengenai pengetahuan tentang berbagai macam bisikan hati, patut anda ketahui, bahwa bisikan-bisikan itu adalah pengaruh yang muncul di dalam qalbu hamba yang menjadi pendorong untuk melakukan atau tidak melakukan…

Lihat pos aslinya 797 kata lagi

TIGA EKOR IKAN

Sufi Muda

Konon, di sebuah kolam tinggal tiga ekor ikan: Si Pandai, Si
Agak Pandai, dan  Si  Bodoh.  Kehidupan  mereka  berlangsung
biasa  saja  seperti  ikan-ikan lain, sampai pada suatu hari
ketika kolam itu kedatangan-seorang manusia
 
Ia membawa jala; dan Si Pandai melihatnya  dari  dalam  air.
Sadar   akan   pengalamannya,   cerita-cerita   yang  pernah
didengarnya, dan kecerdikannya, Si Pandai  memutuskan  untuk
melakukan sesuatu.
 
“Hampir  tak  ada  tempat berlindung di kolam ini,” pikirnya
“Jadi saya akan pura-pura mati saja.”
 
Ia mengumpulkan  segenap  tenaganya  dan  meloncat  ke  luar
kolam,  jatuh  tepat  di  kaki  nelayan  itu.  Tentu saja si
Nelayan  terkejut.  Karena  ikan  tersebut  menahan   nafas,
nelayan  itu  mengiranya  mati:  ia pun melemparkan ikan itu
kembali ke kolam. Ikan  itu  kemudian  meluncur  tenang  dan
bersembunyi di sebuah ceruk kecil dekat pinggir kolam.
 
Ikan  yang  kedua, Si Agak-Pandai, tidak begitu memahami apa
yang telah terjadi. Ia pun berenang mendekati Si Pandai  dan
menanyakan  hal  itu.” …

Lihat pos aslinya 287 kata lagi